MENCARI KEBANGGAAN DI HADAPAN ALLAH SWT
Muh.Yamin
Muh.Yamin
اَلحَمْدُ للهِ رَبِّ
العالميْنَ‘ وبِهِ نَسْتَعِيْنَ عَلَى أُموْرِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ‘وَاصَّلاَةُ
وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ المُرْسَلِينَ ‘نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَ سَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُم بِاِ حسَا نِ إِلَى يَو
مِ الدِّينْ‘وبعد
Jamaah
Rahimakumullah
Apapun yang saat ini kita lakukan,
baik kita yang lagi duduk di meja makan, mendengarkan ceramah atau lagi di
kendaraan, pada hakekatnya kita saat ini lagi bekerja menuju Allah SWT.
$ygr'¯»t ß`»|¡RM}$# y7¨RÎ) îyÏ%x. 4n<Î) y7În/u %[nôx. ÏmÉ)»n=ßJsù ÇÏÈ
Hai manusia, Sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh
menuju Tuhanmu, Maka pasti kamu akan menemui-Nya
Apakah
pekerjaan yang mengundang pahala, ataukah pekerjaan yang mengandung dosa, yang
pada hakikatnya akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.
Maka untuk hal
tersebut, sudah selayaknya, kita melakukan pekerjaan yang baik untuk menjadikan
kehidupan kita baik dan diridhai oleh Allah SWT.
Jamaah
rahimakumullah
Hidup ini
tidaklah untuk menghabiskan waktu tanpa hal yang tidak bermanfaat, Hari-hari
kita dipenuhi dengan pikiran bagaimana bisnis
hari ini. Apa lagi yang harus di lakukan, hal ini tidak hanya
berlaku pada orang kaya saja, jika orang
kaya berfikir mau makan di mana, maka orang-orang miskin berfikir mau makan apa hari ini.., inilah
yang terjadi. Kita jarang mau merenung apa esensi dari semua ini. Apakah kita
sengaja dihadirkan ke muka bumi ini untuk tujuan dunia saja, menikmati
masa-masa kehidupan dengan bersenang-senang tanpa batas.
Kita
telah lupa membaca surat cinta untuk kita renungkan setiap hari yakni alquran,
kita juga telah lupa untuk mentadabburi maknanya. Kita telah lupa untuk mengetahui
pesan-pesan apa yang ada dalam kitab suci
tersebut. Karena kita lebih tertarik untuk melihat bagaimana
kejadian-kejadian yang ada di belahan dunia ini melalui internet ataupun koran. Tiap hari kita disibukkan untuk melihat
pergerakan bisnis dan ekonomi kita. sampai kita lupa bahwa kita hadir
sesungguhnya bukanlah untuk itu semua. Bahwa kita lahir untuk kebahagiaan di
akhirat,
Orang-orang
yang bersama Rasulullah SAW telah memberikan contoh, bagaimana kita semestinya
menjadikan diri kita istimewa di hadapan Allah SWT. Bagaimana kisah dua orang
sahabat yang bernama Abdullah bin Jahsy r.a dan Sa’ad bin Abi Waqqash r.a, bagaimana wujud
kecintaan mereka terhadap tujuan hidup mereka, yang mana peristiwa ini terjadi
pada saat perang uhud. Tatkala Abdullah bin jahsy mengajak sahabatnya
Sa’ad untuk berdoa bersama dan saling
mengamini, mereka menuju ke suatu sudut dan yang pertama berdoa adalah sa’ad
ra, dengan doanya adalah sebagai berkut “ Ya ..Allah jika esok kami bertempur,
hadapkanlah kepadaku musuh yang berani, yang menyerangku dengan hebat, lalu aku
melawannya dengan hebat pula. Lalu karuniakannlah aku kemenangan dan membunuh
mereka di jalanmu dan karuniakanlah kami harta rampasan”. Kemudian Abdullah r.a pun mengamini doa sahabatnya.
Lalu
tibalah giliran Abdullah bin jahsi
r.a berdoa “ Ya Allah jika esok
kami bertempur, maka hadapkanlah kepadaku musuh yang kuat dan beranikanlah aku
untuk melawannya, lalu ya Allah
syahidkanlah aku dalam keadaaan terpotong hidung dan telingaku, sehingga pada
hari kiamat nanti, ketika aku di hadapkan kepada-Mu, Engkau akan bertanya “Hai Abdullah, kenapa hidung dan telingamu
terpotong?” Maka aku akan menjawab “ Ya Allah, hidung dan telingaku terpotong
karena berjuang di jalan-Mu dan jalan rasul-Mu”. Dan Engkau akan berkata
“benar, semuanya terpotong di jalanku “ Saad
pun mengaminkan doa sahabatnya tersebut.
Dan
ternyata esok harinya tatkala pertempuran betul-betul terjadi. Ternyata doa-doa
mereka semua terkabulkan. Akhirnya Saad r.a. pun berkata “Doa Abdullah lebih baik
daripada doaku, kulihat telinga dan hidungnya terpotong-potong dan pedangnya
patah dalam perang uhud[1].
Kita
telah menyaksikan bagaimana kedua sahabat ini, mencari posisi yang terbaik di
hadapan Allah, kisah ini juga menyiratkan pertanyaan pada diri kita.. jikalau
meraka sudah mengerjakan satu hal yang sangat besar nilainya. Lantas bagaimana
dengan diri kita ,Apa yang akan kita banggakan di hadapan Allah S.W.T, kelak ketika kita berdiri
dihadapan-Nya ?
Tidakkah
Wahsy yang merupakan seorang pembunuh paman nabi yakni Hamzah r.a., dalam
sebuah peperangan bisa juga menjadi pelajaran, ketika Rasulullah SAW menyaksikan
pertaubatan dan keislamannya dan berkata kepada Wahsy untuk jangan memunculkan
wajahnya di hadapan beliau, yang mana jika melihatnya, Rasulullah SAW akan
bersedih mengingat kematian pamannya. Penyesalan yang dialami oleh Wahsy atas
pembunuhan tersebut, membuatnya bersungguh-sungguh untuk menebus kesalahan
yang dilakukannya. Maka tatkala sepeninggal rasulullah SAW, Wahsy r.a. telah
berhasil membunuh musuh yang paling dibenci oleh nabi karena mengaku sebagai
nabi palsu yakni Musailamah al kazzab[2].
Sehingga
beliau pun berkata “Tombakku ini telah membunuh seorang yang paling dicintai
oleh rasulullah SAW, namun aku
menebusnya dengan tombakku ini juga, aku telah berhasil membunuh seseorang yang
paling dibenci rasulullah SAW”.
Jamaah
rahimakumullah
Beginilah
para sahabat , kalau mereka bersungguh-sungguh untuk mencari sebuah kebanggaan
di hadapan Allah SWT, Maka mari kita
juga gunakan seluruh potensi yang kita miliki untuk menjadi hamba yang bisa berdiri tegak,
dan kelak bisa berkata inilah bukti cintaku kepadamu ya.. Allah. , Ya… Allah
jadikan kami hamba-hamba terbaik yang akan engkau berikan kebaikan dunia dan
akhirat.
Komentar
Posting Komentar