Kitab Ilmu bab 36; Orang yang mendengarkan sesuatu namun ia tidak memahaminya lalu ia mengkonfirmasinya lagi hingga paham
Kitab Ilmu bab 36; Orang yang mendengarkan
sesuatu namun ia tidak memahaminya lalu ia mengkonfirmasinya lagi hingga paham
بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari
-rahimahullah- berkata:
بَابُ مَنْ
سَمِعَ شَيْئًا فَلَمْ يَفْهَمْهُ فَرَاجَعَ فِيهِ حَتَّى يَعْرِفَهُ
“Bab: Orang yang
mendengarkan sesuatu namun ia tidak memahaminya lalu ia mengkonfirmasinya lagi
hingga paham”
Dalam bab
ini, imam Bukhari menjelaskan bolehnya seseorang menanyakan apa yang ia
dengarkan jika belum paham, karena betapa banyak ucapan yang baik namun
menibulkan keburukan karena pemahaman yang rusak. Untuk itu kita tidak boleh
malu untuk bertanya demi kebaikan sebagaimana dicontohkan oleh sahabat Nabi
seperti hadits Aisyah –radhiyallahu
‘anha- yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dalam bab ini.
Al-Imam Al-Bukhari berkata di dalam Shahih-nya
pada Kitab Al-Ilmu bab orang yang mendengar sesuatu lalu dia mengonfirmasinya
lagi hingga paham,
|
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ
أَبِي مَرْيَمَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ: حَدَّثَنِي [عَبد
الله بن عُبيد الله] ابن أَبِي مُلَيْكَةَ |
👉 Ini adalah sanad
(rantai perawi hadits). |
|
Telah
menceritakan kepada kami Sa’id bin
Abu Maryam, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Nafi’
bin Umar, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku [Abdullah bin ‘Ubaidillah] Ibnu Abi Mulaikah |
|
|
أَنَّ عَائِشَةَ، زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: كَانَتْ لاَ تَسْمَعُ شَيْئًا لاَ تَعْرِفُهُ، إِلَّا
رَاجَعَتْ فِيهِ حَتَّى تَعْرِفَهُ |
👉 Menunjukkan
sikap ilmiah dan hati-hati Aisyah r.a. dalam memahami agama. |
|
Bahwa Aisyah,
istri Nabi ﷺ, tidaklah mendengar
sesuatu yang tidak ia pahami kecuali ia menanyakannya kepada Nabi ﷺ sampai ia mengerti. |
|
|
وَأَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: «مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ» |
Maksudnya, jika
hisab seorang hamba dibongkar secara mendetail dan diteliti setiap kesalahan,
pasti akan berujung azab, karena tidak ada manusia yang selamat dari dosa. |
|
Dan Nabi ﷺ bersabda: “Siapa yang dihisab (diperiksa
secara detail amalnya), maka ia akan diazab.” |
|
|
قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ أَوَلَيْسَ يَقُولُ
اللَّهُ تَعَالَى: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا} [الانشقاق: 8] |
👉 Aisyah ingin
mengkonfirmasi perbedaan antara hisab yang ringan dengan sabda Nabi ﷺ tentang hisab yang membawa azab. |
|
👉 Aisyah berkata:
Aku bertanya, “Bukankah Allah Ta’ala berfirman: {Kelak dia akan dihisab dengan hisab
yang ringan} (QS. Al-Insyiqaq: 8)?” |
|
|
قَالَتْ: فَقَالَ: " إِنَّمَا ذَلِكِ العَرْضُ، وَلَكِنْ: مَنْ نُوقِشَ
الحِسَابَ يَهْلِكْ " |
👉
Jadi ada dua jenis hisab: ·
Hisab
Yasiir (ringan): hanya ditampakkan amal-amal lalu
diampuni oleh Allah. ·
Hisab
Tafshil (detail, diinterogasi):
ditanyakan rinci tentang kesalahan → ini yang menyebabkan kebinasaan. |
|
Maka Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya yang dimaksud
(hisab yang ringan) itu adalah pemaparan (sekedar ditunjukkan amalnya).
Tetapi barangsiapa yang dihisab dengan perdebatan (diperiksa secara detail),
pasti binasa.” |
=(العَرْضُ) menghadapkan seorang hamba di depan pengadilan Allah
=(نُوقِشَ)
(Dihisab dengan teliti). Maksudnya, bahwa pemeriksaan Allah terhadap
seorang hamba akan menyebabkan adanya siksaan, karena perbuatan baik seorang
hamba tergantung apakah perbuatan tersebut diterima atau tidak. Jika bukan
karena rahmat Allah yang menjadikan amal perbuatan tersebut diterima di
sisi-Nya. maka dia tidak akan selamat dan siksa-Nya.
(يَهْلِكْ) . Hadits ini menjelaskan antusiasme Aisyah untuk
memahami makna setiap hadits. dan Nabi pun tidak pernah merasa bosan untuk
menjelaskan setiap ilmu yang ditanyakan, maka hadits ini mengandung isyarat
diperbolehkannya mengadakan dialog dan mendiskusikan sesuatu, menghubungkan
Sunnah dan Al Qur'an serta perbedaan manusia dalam pemeriksaan (hisab) Allah.
·
Kemudian muncul pertanyaan, apakah hal ini tidak
berarti larangan bagi para sahabat untuk banyak bertanya sesuai dengan
FirmanNya,
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَسَۡٔلُواْ عَنۡ أَشۡيَآءَ إِن تُبۡدَ لَكُمۡ [ المائدة:101-101]
"Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika
diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu." (QS. Al-Maa'idah [5]:
101)
·
Berbagai kasus serupa pertanyannya aisya terjadi
saat rasulullah masih hidup, walaupun jarang terjadi karena sahabat paham
dengan bahasa arab , misalnya
|
1 |
Aisyah
radhiyallahu 'anha berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam tentang firman Allah 'azza wa jalla: {يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ}
[إبراهيم: 48] Pada hari (ketika) bumi diganti dengan
bumi yang lain dan (demikian pula) langit. [Ibrahim:48] Lalu di mana
manusia pada saat itu, ya Rasulullah? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam menjawab: «عَلَى الصِّرَاطِ» [صحيح مسلم] "Di atas titian shirath".
[Sahih Muslim] |
|
2 |
Abdullah bin
Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika ayat ini turun: {الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ
أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ} [الأنعام: 82] Orang-orang yang beriman dan tidak
mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat
keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
[Al-An'aam:82] Ayat ini terasa berat bagi umat Islam,
maka sahabat bertanya: Ya Rasulullah, siapakah diantara kami yang tidak
mendzalimi dirinya (dengan maksiat secara umum)? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam menjawab: «لَيْسَ ذَلِكَ إِنَّمَا هُوَ الشِّرْكُ
أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ» "Bukan kezaliman itu yang dimaksud
akan tetapi kesyirikan, tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan Luqman
kepada anaknya di waktu ia memberi peringatan kepadanya? {يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ
الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ} [لقمان: 13] "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan
Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar". [Luqman:13] [Shahih Bukhari dan Muslim |
|
3 |
Dari Ummu Mubasysyir, bahwasanya
ia pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda
di rumah Hafshah: «لَا يَدْخُلُ
النَّارَ، إِنْ شَاءَ اللهُ، مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ، الَّذِينَ
بَايَعُوا تَحْتَهَا» قَالَتْ: بَلَى، يَا رَسُولَ اللهِ؟! فَانْتَهَرَهَا،
فَقَالَتْ حَفْصَةُ: {وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا
وَارِدُهَا} [مريم: 71] فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {ثُمَّ
نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا} [مريم:
72] [صحيح مسلم] "Insya Allah tidak akan masuk ke dalam
neraka seorang pun dari orang-orang yang turut serta berbaiat di bawah
pohon." Hafshah berkata; 'Memangnya benar seperti itu ya Rasulullah?'
Rasulullah menegur Hafshah yang berkata seperti itu. Lalu Hafshah membacakan
ayat yang ang berbunyi; {Tak
seorang pun darimu melainkan akan mendatangi neraka itu} (Maryam: 71). Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, 'Bukankah Allah ‘azza wajalla telah
berfirman: {Kemudian Kami akan
menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim
di dalam neraka dalam keadaan berlutut}' (Maryam (19): 72). |
·
Pengertian yang dapat diambil dari ketiga hadits
tersebut. yaitu adanya kata yang masih mempunyai pengertian yang sangat umum,
maka Rasulullah menjelaskan arti khusus dan kata lersebul Kejadian seperti ini
tidak banyak terjadi di kalangan para sahabat, karena mereka mengerti dan
memahami bahasa Arab
·
Dari sini dapat dipahami, bahwa pertanyaan yang
dilarang sebagaimana yang dijelaskan di depan adalah pertanyaan vang akan
menyulitkan orang yang bertanya, sebagaimana dalam firman-Nya,
فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ
مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ [ آل عمران:7-7]
Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada
kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat
daripadanya untuk menimbulkan fitnah. [Al 'Imran:7]
·
Oleh sebab itu, diceritakan bahwa Umarpernah
mengingkari dan menghukum seorang bernama Subaigh karena terlalu banyak
mengajukan pertanyaan. Penjelasan lebih lanjut mengenai hai ini,
Diriwayatkan dalam beberapa kitab tafsir dan sejarah, antara lain oleh Ibnu
Katsir, Ath-Thabari, dan Ibnu Abi Syaibah.
·
Subaigh bin ‘Asal berasal dari
Irak. Ia sering datang kepada para sahabat untuk menanyakan ayat-ayat Al-Qur’an
dengan maksud yang tidak baik. Pertanyaannya bukan untuk
mencari kebenaran, melainkan untuk membantah, memperdebatkan, dan
membuat keraguan.
·
Misalnya, ia bertanya:
“Apa maksud firman Allah: وَالذَّارِيَاتِ
ذَرْوًا
(Demi yang menerbangkan debu)?”
“Apa maksud: فَالْجَارِيَاتِ يُسْرًا (Demi
yang berlari dengan mudah)?”
·
Ketika sampai berita ini kepada Amirul
Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, beliau murka. Umar
segera memanggil Subaigh dan memukulnya dengan pelepah kurma sampai kepalanya
berdarah.
·
Umar berkata:
“Celakalah engkau wahai Subaigh! Demi Allah,
kalau aku dapati engkau masih bertanya-tanya seperti ini, sungguh aku akan
benar-benar menyakitimu.”
·
Setelah beberapa kali dipukul dan ditegur,
Subaigh pun bertaubat. Ia kemudian hidup di Bashrah dalam
keadaan baik.
|
SEORANG GURU TIDAK MARAH JIKA DITANYAI OLEH MURIDNYA DENGAN CARA YANG
BAIK SEBAGAIMANA NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM. |
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bertanya
kepada Rasulullah ﷺ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ
إِلَى اللَّهِ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا»، قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟
قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الوَالِدَيْنِ» قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: «الجِهَادُ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ» قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي |
Amalan apakah yang
paling dicintai oleh Allah? Rasulullah menjawab: "Shalat tepat pada
waktunya !" Ibnu Mas'ud berkata: Kemudian apa? Rasulullah ﷺ menjawab: "Berbakti kepada
kedua orang tua!" Ibnu Mas'ud berkata: Kemudian apa? Rasulullah ﷺ menjawab: "Jihad di jalan
Allah!" Ibnu Mas'ud berkata: Rasulullah ﷺ menyampaikannya
kepadaku, dan seandainya aku terus bertanya maka beliau akan terus menjawabnya!
[Sahih Bukhari dan Muslim] |
|
BOLEH BERDEBAT DALAM MEMAPARKAN ARGUMENT DENGAN CARA YANG BAIK. |
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman: {ادْعُ إِلَى سَبِيلِ
رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ
أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ
أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ} [النحل: 125] Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu
dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang
mendapat petunjuk. [An-Nahl: 125] |
{وَلَا تُجَادِلُوا
أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا
مِنْهُمْ} [العنكبوت: 46] Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli
kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang
zalim di antara mereka. [Al-'Ankabuut:
46] Yang
dimaksud dengan orang-orang yang zalim ialah: orang-orang yang setelah
diberikan kepadanya keterangan-keterangan dan penjelasan-penjelasan dengan
cara yang paling baik, mereka tetap membantah dan membangkang dan tetap
menyatakan permusuhan. |
|
TIDAK ADA
PERTENTANGAN SECARA HAKIKI ANTARA AL-QUR’AN DAN HADITS SHAHIH |
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman: {أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ
غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا} [النساء: 82] Maka apakah mereka tidak memperhatikan
Al-Quran? Kalau kiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat
pertentangan yang banyak di dalamnya. [An-Nisaa':82] |
Dari Al-Miqdam bin Ma'dikarib radhiyallahu
'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda: «أَلَا إِنِّي
أُوتِيتُ الْكِتَابَ، وَمِثْلَهُ مَعَهُ» [سنن أبي داود: صحيح] “Sesungguhnya aku diberi Al-Qur'an dan yang sepertinya
(As-Sunnah)”. [Sunan Abu Daud: Sahih] |
|
MANUSIA BERBEDA-BEDA KETIKA AMALANNYA DIPERHITUNGKAN PADA
HARI KIAMAT. |
||
|
1. Ada Yang Dipersulit Perhitungan Amalannya |
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman: {وَكَأَيِّنْ
مِنْ قَرْيَةٍ عَتَتْ عَنْ أَمْرِ رَبِّهَا وَرُسُلِهِ فَحَاسَبْنَاهَا حِسَابًا
شَدِيدًا وَعَذَّبْنَاهَا عَذَابًا نُكْرًا (8) فَذَاقَتْ وَبَالَ أَمْرِهَا
وَكَانَ عَاقِبَةُ أَمْرِهَا خُسْرًا} [الطلاق: 8، 9] Dan berapalah banyaknya (penduduk) negeri
yang mendurhakai perintah Tuhan mereka dan rasul-rasul-Nya, Maka kami hisab
penduduk negeri itu dengan hisab yang keras, dan kami azab mereka dengan azab
yang mengerikan[di akhirat]. Maka mereka merasakan akibat yang buruk dari
perbuatannya, dan adalah akibat perbuatan mereka kerugian yang besar. [Ath-Thalaaq: 8-9] |
Dari Anas radhiyallahu
'anhu; Nabi ﷺ bersabda: «مَنْ حُوسِبَ
عُذِّبَ». [سنن الترمذي: صحيح] "Barangsiapa yang dihisab maka ia akan
diazab." [Sunan Tirmidziy: Shahih] |
|
2. Ada Yang Dimudahkan. |
Dari Ibnu Umar radhiyallahu
'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: «إِنَّ اللَّهَ
يُدْنِي المُؤْمِنَ، فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ، فَيَقُولُ:
أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا، أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ أَيْ
رَبِّ، حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ، وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ
هَلَكَ، قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا، وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ
اليَوْمَ، فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ، وَأَمَّا الكَافِرُ وَالمُنَافِقُونَ،
فَيَقُولُ الأَشْهَادُ: {هَؤُلاَءِ الَّذِينَ كَذَبُوا
عَلَى رَبِّهِمْ أَلاَ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ} [هود:
18]» |
Sesungguhnya Allah
mendekatkan seorang mu'min (kepada-Nya di hari kiamat) lalu meletakkan
tirai-Nya dan menutupinya, kemudian berkata kapadanya: "Apakah engkau mengetahui dosa ini? Apakah kau mengetahui dosa
ini (yang telah engkau lakukan)?" Maka ia menjawab: Iya wahai Tuhanku! Sampai ia mengakui
segala dosanya, dan merasa pada dirinya bahwa ia akan binasa. Allah berkata
kepadanya: "Aku telah menutupinya
untukmu di dunia (sehingga tidak ada orang yang mengetahuinya), dan aku
mengampuninya untukmu hari ini". Kemudian diberikan
padanya buku catatan kebaikannya. Adapun orang kafir dan munafiq, maka
orang-orang yang menyaksikan berkata: {Orang-orang
inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka. Ingatlah, kutukan Allah
(ditimpakan) atas orang-orang yang zalim}. [Huud: 18] [Sahih Bukhari
dan Muslim] |
|
Aisyah -radhiyallahu 'anha- berkata: سَأَلْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْحِسَابِ الْيَسِيرِ. فَقُلْتُ:
يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا الْحِسَابُ الْيَسِيرُ؟ فَقَالَ: «الرَّجُلُ تُعْرَضُ
عَلَيْهِ ذُنُوبُهُ، ثُمَّ يُتَجَاوَزُ لَهُ عَنْهَا، إِنَّهُ مَنْ نُوقِشَ
الْحِسَابَ هَلَكَ، وَلَا يُصِيبُ عَبْدًا شَوْكَةٌ، فَمَا فَوْقَهَا، إِلَّا
قَاصَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ» [مسند أحمد: إسناده
قوي] |
Aku pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ mengenai hisab (perhitungan dihari
kiamat) yang ringan. Aku mengatakan, "Wahai Rasulullah! Apakah maksud
hisab yang ringan itu?" Beliau menjawab, "Yaitu seseorang yang
diperlihatkan dosa-dosanya kemudian dia dimaafkan atas dosa-dosanya.
Sesungguhnya siapa yang dihisab (yang tidak bisa diloransi) maka ia akan
binasa, dan tidaklah seorang hamba tertusuk duri atau lebih dari itu
melainkan Allah 'Azza wa Jalla akan menghapus kesalahannya." [Musnad Ahmad:
Sanadnya kuat] |
|
|
3. Ada yang dibebaskan. |
Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu
'anhuma-; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ، فَرَأَيْتُ
النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرُّهَيْط، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَانِ، وَالنَّبِيَّ
لَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ. إِذْ رُفِعَ لِي سَوَادٌ عَظِيمٌ، فَظَنَنْتُ أَنَّهُمْ
أُمَّتِي، فَقِيلَ لِي: هَذَا مُوسَى صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَقَوْمُه، وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُق! ِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ
عَظِيمٌ. فَقِيلَ لِي: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَر! فَإِذَا سَوَادٌ
عَظِيم، فَقِيلَ لِي: هَذِهِ أُمَّتُك، وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا
يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ " ثُمَّ نَهَضَ فَدَخَلَ مَنْزِلَهُ فَخَاضَ
النَّاسُ فِي أُولَئِكَ الَّذِينَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ
وَلَا عَذَابٍ. فَقَالَ بَعْضُهُمْ: فَلَعَلَّهُمْ الَّذِينَ صَحِبُوا رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم. وَقَالَ بَعْضُهُم: فَلَعَلَّهُمْ
الَّذِينَ وُلِدُوا فِي الْإِسْلَامِ وَلَمْ يُشْرِكُوا بِاللَّهِ. وَذَكَرُوا أَشْيَاء،
فَخَرَجَ عَلَيْهِمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَال:
مَا الَّذِي تَخُوضُونَ فِيه؟ فَأَخْبَرُوهُ فَقَالَ: "هُمْ الَّذِينَ لَا
يَرْقُونَ وَلَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ
يَتَوَكَّلُونَ " |
Beberapa umat ditunjukkan kepadaku. Maka aku melihat seorang nabi bersama
sekelompok kecil, ada lagi nabi
yang disertai seorang atau dua orang dan ada pula nabi yang tidak disertai seorang pun. Tiba-tiba ditunjukkan kepadaku kelompok besar. Aku menyangka mereka adalah umatku. Namun dijelaskan: 'Ini adalah
Musa dan kaumnya. Lihatlah ke ufuk!' Aku memandang ke ufuk, ternyata ada kelompok yang lebih besar.
Dijelaskan lagi kepadaku: Pandanglah ke ufuk yang lain. Ternyata ada
sekelompok yang lebih besar lagi. Dijelaskan padaku: 'Ini adalah umatmu. Di
antara mereka ada tujuh puluh ribu orang yang masuk surga tanpa hisab dan
siksa.'" Kemudian Rasulullah ﷺ beranjak dan masuk ke rumahnya. Para sahabat
membicarakan siapa yang masuk surga tanpa hisab dan tanpa siksa. Sebagian
berkata: Barangkali mereka adalah
orang-orang yang selalu menyertai Rasulullah ﷺ, Sebagian lagi berkata: Mungkin
mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam Islam dan tidak menyekutukan
Allah. Mereka saling mengemukakan pendapat masing-masing. Ketika
Rasulullah ﷺ keluar, beliau
bertanya: "Apa yang kalian bicarakan?" Mereka memberitahu kepada beliau apa yang
sedang mereka perbincangkan, lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
"Mereka adalah orang-orang yang
tidak meminta untuk di ruqyah, tidak bertathayyur dan hanya kepada Rabb
mereka bertawakal." [Shahih Muslim] |
Bagaimana Para Salaf Menyiapkan Diri Agar Hisabnya Ringan
|
Umar bin Khattab r.a. – Muhasabah sebelum
dihisab |
Umar r.a.
sering berkata: تُحَاسَبُوا
أَنْ قَبْلَ أَنْفُسَكُمْ حَاسِبُوا |
Beliau selalu introspeksi setiap malam: Apa
yang sudah aku lakukan hari ini? Apakah aku menzhalimi orang? Apakah aku
menunaikan hak-hak Allah? |
Pesan: Muhasabah harian meringankan
hisab akhirat. |
|
Hasan al-Bashri – Takut pada detail hisab |
Hasan al-Bashri
rahimahullah bila membaca ayat tentang hisab, beliau menangis hingga
janggutnya basah. |
Ia pernah
berkata: “Seseorang akan terus dihisab, lalu ditanya
tentang hal-hal kecil yang ia lupakan. Demi Allah, hisab itu sangat berat,
kecuali bagi orang yang Allah ringankan.” |
👉 Pesan: Jangan remehkan dosa kecil,
karena bisa menumpuk dan memberatkan hisab |
|
Abdullah bin Mas‘ud r.a. – Tidak meremehkan dosa |
Beliau
berkata:“Orang beriman melihat dosanya seperti gunung yang hampir menimpanya,
sedangkan orang munafik melihat dosanya seperti lalat yang hinggap di hidung
lalu ia kibaskan.” |
Pesan: Rasa takut terhadap dosa akan
membuat kita banyak istighfar → ini yang meringankan hisab. |
|
|
Umar bin Abdul Aziz – Mengembalikan hak orang |
Suatu ketika, Umar
bin Abdul Aziz mengembalikan sebuah lampu minyak yang dipakai di rumahnya. Ia
berkata: “Lampu itu milik negara, aku tak boleh memakainya untuk urusan
pribadi.” |
Pesan: Menghindari kezhaliman sekecil apa
pun, karena urusan hak manusia akan memberatkan hisab |
|
|
Imam Ahmad bin Hanbal – Banyak doa dan istighfar . |
Imam Ahmad
pernah ditanya: “Kapan seorang hamba bisa istirahat?” “Ketika pertama
kali ia menginjakkan kakinya di surga.” |
👉 Pesan: Jangan berhenti beribadah dan
berdoa agar Allah mudahkan hisab, karena dunia adalah tempat menanam
amal, bukan bersantai |
|
Ringkasan Hikmah untuk Kita
Dari kisah para
salaf, cara agar hisab ringan adalah:
1.
Muhasabah
rutin → evaluasi diri
sebelum tidur.
2.
Takut
pada dosa sekecil apa pun.
3.
Mengembalikan
hak orang lain
sebelum mati.
4.
Banyak
istighfar dan doa
memohon hisab yang mudah.
اَللَّهُمَّ
حَاسِبْنِى حِسَابًا يَسِيرًا (Ya Allah, hisablah aku dengan hisab yang mudah)
HR. Ahmad 6/48
5.
Hidup
dalam ihsan
→ merasa selalu diawasi Allah.
Ø Seorang muslim yang berihsan akan:
1.
Banyak
berdoa agar hisabnya dimudahkan.
2.
Memperbanyak
istighfar dan taubat, karena
setiap dosa bisa memberatkan hisab.
3.
Mengamalkan
amal ikhlas yang tidak ria,
sebab hanya amal yang murni untuk Allah yang akan menolong di hari itu.
4.
Berharap
rahmat Allah lebih besar dari amalnya, karena keselamatan sejati bukan karena banyaknya amal, tapi karena
kasih sayang Allah.
Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Allah Ta’ala berfirman,
أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى
“Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). Hadits ini mengajarkan
bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya.
Jabir berkata bahwa ia
pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat
tiga hari sebelum wafatnya beliau,
لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ
الظَّنَّ
“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus
berhusnu zhon pada Allah” (HR. Muslim no. 2877).
Komentar
Posting Komentar